Benarkah Kopi Penting Untuk Kesehatan?

Kompas dalam edisi 2/02/2010 menulis tentang sebuah penelitian mengenai manfaat secangkir kopi bagi olehragawan. Begini bunyi artikelnya, “Asupan kopi bisa membuat otak kita terjaga sehingga tubuh tidak cepat merasa lelah. Menurut peneliti, kafein di dalam kopi bisa “mendorong” otot untuk membakar lemak (alih-alih karbohidrat) sebagai sumber energi. Riset yang dilakukan terhadap para atlet bersepeda menunjukkan, atlet yang minum secangkir kopi sebelum latihan, ternyata mampu berlatih lebih lama dibandingkan mereka yang hanya minum air putih.”

Hasil penelitian tersebut memang ada benarnya tapi kita harus lebih kritis dalam menyikapinya. Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab oleh penelitian ini :
1. Seberapa banyak kopi yang aman untuk kesehatan?
2. Bagaimana dengan orang-orang yang memiliki pantangan terhadap kopi?

Mungkin pada tulisan ini saya mencoba memberikan beberapa hal mengenai kopi dari segi metabolisme dan dampaknya bagi kesehatan :
Kopi merupakan bahan makanan yang mengandung banyak zat aktif terutama Cafein
Kafeina mengikat reseptor adenosina di otak. Adenosina ialah nukleotida yang mengurangi aktivitas sel saraf saat tertambat pada sel tersebut. Seperti adenosina, molekul kafeina juga tertambat pada reseptor yang sama, tetapi akibatnya berbeda. Kafeina tidak akan memperlambat aktivitas sel saraf/otak, sebaliknya menghalangi adenosina untuk berfungsi. Dampaknya aktivitas otak meningkat dan mengakibatkan hormon epinefrin terlepas. Hormon tersebut akan menaikkan detak jantung, meninggikan tekanan darah, menambah penyaluran darah ke otot-otot, mengurangi penyaluran darah ke kulit dan organ dalam, dan mengeluarkan glukosa dari hati. Lebih jauh, kafeina juga menaikkan permukaan neurotransmitter dopamine di otak.

Kafeina dapat dikeluarkan dari otak dengan cepat, tidak seperti alkohol atau perangsang sistem saraf pusat yang lain sehingga tidak mengganggu fungsi mental tinggi dan tumpuan otak. Konsumsi kafeina secara berkelanjutan akan menyebabkan tubuh menjadi toleran terhadap kehadiran kafeina. Oleh sebab itu, jika produksi internal kafeina diberhentikan (dinamakan “pelepasan ketergantungan”), tubuh menjadi terlalu sensitif terhadap adenosina dan menyebabkan tekanan darah turun secara mendadak yang seterusnya mengakibatkan sakit kepala dan gejala-gejala lainnya. Kajian terbaru menyebutkan kafeina dapat mengurangi risiko penyakit Parkinson, tetapi hal itu masih memerlukan kajian mendalam.

Terlalu banyak kafeina dapat menyebabkan peracunan (intoksikasi) kafeina (yaitu mabuk akibat kafeina). Antara gejala penyakit ini ialah keresahan, kerisauan, insomnia, keriangan, muka merah, kerap kencing (diuresis), dan masalah gastrointestial. Gejala-gejala ini bisa terjadi walaupun hanya 250 mg kafeina yang diambil. Jika lebih dari 1g kafeina dikonsumsi dalam satu hari, gejala seperti kejang otot (muscle twitching), kekusutan pikiran dan perkataan, aritmia kardium (gangguan pada denyutan jantung)m dan gejolak psikomotor (psychomotor agitation) bisa terjadi. Intoksikasi kafeina juga bisa mengakibatkan kepanikan dan penyakit kerisauan.

Walaupun masih aman bagi manusia, kafeina, teofilina, dan teobromina (pada kakao) lebih meracun bagi sebagian hewan, seperti kucing dan anjing karena perbedaan dari segi metabolisme hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s