Kegagalan Posyandu dan Kambing Hitam “PMT Penyuluhan”……..

Kegiatan di Posyandu. Sumber. Binabidan.com

Posyandu

Posyandu merupakan sarana yang sangat epektif untuk memberikan pemahaman kesehatan kepada masyarakat khususnya kelompok rawan seperti bayi, balita, ibu hamil dan lansia. Di Posyandu banyak kegiatan yang dilakukan dan dilayani, misalnya Antenatal Care (ANC) bagi ibu hamil, penimbangan, pemberian imunisasi kepada Balita, penyuluhan, dan pelayanan kesehatan lainnya seperti peberian Vitamin A dosis tinggi.
Meskipun banyak kegiatan yang ada di Posyandu, tetapi kenyataannya hanya sedikit sasaran yang datang setiap bulan. Rata-rata hampir 50-60% dari jumlah sasaran padahal Depkes mengharapkan minimal 80% sasaran datang pada setiap kali kegiatan…Jadi dari hasil ini masih jauh dari harapan.
Pemerintah telah berupaya untuk memperbaiki hal tersebut. Program maupun crash program telah digulirkan tetapi hasilnya tetap tidak terlalu menggembirakan.

Kenapa Posyandu Masih kurang peminat?

Banyak hal yang perlu didiskusikan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun berdasarkan pengalaman penulis, ada beberapa masalah mendasar yang mengakibatkan hal tersebut antara lain :

  1. Pemahaman bahwa posyandu merupakan miliknya petugas kesehatan bukan miliknya masyarakat. Dengan pemahaman seperti ini maka hidup matinya Posyandu sangat tergantung dari keaktifan petugas kesehatan. Dengan pemahaman seperti ini maka peran serta masyarakat sebagai prasyarat berhasilnya kegiatan ini menjadi sangat minim. Peran tokoh masyarakat baik formal maupun informal, tokoh agama sangat penting untuk mengajak masyarakat memanfaatkan Posyandu. Jika petugas kesehatan berhalangan atau terlambat ke Posyandu maka Posyandu secara otomatis tidak jalan. Sangat sedikit Posyandu yang secara mandiri melaksanakan kegiatannnya sendiri, sementara petugas kesehatan hanya sebagai pembina.
  2. Peran lintas sektor hanya di atas kertas. Posyandu lahir dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan, BKKBN dan TP PKK Pusat, yang dicanangkan tahun 1986. Dengan adanya SKB tersebut sudah selayaknya peran serta lintas sektoral sangat perlu dalam kesinambungan kegiatan di Posyandu. Mungkin yang cukup kelihatan perannya selain petugas kesehatan adalah TP PKK …apalagi pada saat adanya lomba, sedangkan sehari-hari kegiatan mutlak dibebankan pada petugas kesehatan.
  3. Kegiatan di Posyandu yang membosankan. Saat ini, kebanyakan Posyandu hanya melaksanakan kegiatan ANC, Imunisasi dan menimbang. sangat minim kegiatan inovatif untuk mendukung tumbuh kembang anak yang optimal. Akibat tidak adanya kegiatan tersebut maka biasanya balita yang sudah dapat imunisasi sangat jarang untuk mendatangi Posyandu kecuali pada bulan-bulan tertentu seperti pada bulan Februari dan Agustus karena adanya bulan Vitamin A. Kadang orang tua balita menjawab” kita datang hanya timbang-timbang doang” sebagai bentuk kebosanan .

Dengan adanya permasalahan tersebut diatas, maka penulis berbendapat revitalisasi Posyandu mutlak dilakukan, tetapi jangan hanya retorika seperti tahun-tahun sebelumnya yang menghabiskan banyak anggaran negara. Banyak langkah kecil dengan biaya murah yang dapat dilakukan antara lain :

  1. Memberikan tanggung jawab kepada tokoh formal seperti Kades, kadus, RT, RW untuk melakukan pembinaan Posyandu di wilayahnya masing-masing. Mereka harus membuat laporan rutin tentang kegiatan di Posyandu sebagaimana halnya petugas kesehatan membuat laporan yang dilaksanakan secara berjenjang. Dengan adanya tanggung jawab tersebut maka mau tidak mau mereka akan merasa bertanggung jawab terhadap kegiatan di Posyandu….
  2. Sama halnya di atas, Lintas sektor juga harus terlibat langsung, jangan hanya membonceng atau memetik data dari petugas kesehatan . mereka harus terlibat langsung denga peran yang berbeda tentunya……
  3. Adanya kegiatan inovatif di Posyandu. Hal ini perlu dilakukan agar kegiatan di Posyandu tidak membosankan. Posyandu di Kota dan di DEsa harus di desain berbeda karena biasanya kebutuhannya juga berbeda. Kegiatan yang merangsang tumbuh kembang balita harus diperbanyak.

Bagaimana dengan PMT Penyuluhan di Posyandu?

Sering kita mendengar setiap terjadinya penurunan D/S di Posyandu sebagai indikator partisipasi masyarakat maka sebagian kita menjawab ” karena tidak ada PMT penyuluhan ” . Kasian PMT Penyuluhan sering menjadi “kambing hitam” kegagalan berbagai sektor untuk menjaring ibu balita untuk datang ke Posyandu. Apakah mesti ada PMT Penyuluhan untk mendatangkan orang ke Posyandu.????

Insya Allah nanti tiang lanjutankan,.soalnya udah mulai ngantuk nich..hehehe……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s